Petir adalah kilatan cahaya hasil dari pertemuan awan bermuatan positif dengan awan bermuatan negatif. Kilatan cahaya ini akan menyambar benda yang tertinggi. Benda tertinggi bisa jadi hotel bertingkat, menara rumah lantai dan lain-lain.
Pada artikel pembahasan kali ini kita merucut pada rumah saja.
Tentu yang awam akan bertanya-tanya metode seperti apa yang sebaiknya dipergunakan untuk memasang instalasi penangkal petir tersebut?
Adakah ketentuan nilai hambatan-hambatan tertentu yang menjadi ambang batas?
Jenis Penangkal Petir
Di tinjau dari jenis penangkal petir terdapat 2 (dua) jenis penangkal petir, yaitu:
  • Penangkal petir konvensional
  • Penangkal petir radius
Pada kesempatan kali ini kita hanya membahas penangkal petir konvensional karena jenis penangkal petir ini yng sering di gunakan.
Daripada berlama-lama pembukaan, yuk kita ulas bersama di bawah ini.
Konstruksi Penangkal Petir Konvensional di Luar Rumah
Bagaimana dengan instalasi grounding di bagian luar atau outdoor. Untuk tipe yang umum atau konvensional bisa dilihat pada gambar berikut :
Cara Pemasangan Penangkal Petir
Dari gambar dapat dijelaskan sebagai berikut :
  1. Sistem grounding yang terpasang ada dua macam yaitu untuk instalasi listrik rumah dan instalasi penangkal petir. Dua system grounding ini memang harus dipisahkan pemasangannya dan berjarak paling tidak 10 m.
  2. Koneksi grounding untuk instalasi listrik rumah terpasang di kWh meter PLN.
Komponen Instalasi Grounding
Komponen instalasi grounding adalah sebagai berikut :
  1. batang grounding, yaitu batang grounding yang ditanam di dalam tanah. Terdiri dari pipa galvanis medium , kawat tembaga BC berdiamater 16 mm2, Dan dilengkapi dengan splitzen yang dikencangkan dengan baut. Panjang grounding rod ini biasanya antara 1.5 m s / d 3 m.
  2. PVC Pipa, yang digunakan sebagai selubung (kelakuan) dari kabel grounding yang ditanam dalam dinding / tembok atau untuk jalur kabel penangkal petir.
Dari kWh meter, kawat tembaga BC yang terpasang dalam pipa PVC sebagai konduit bertemu dengan grounding batang dalam satu bak kontrol.
Untuk instalasi penangkal petir, air terminal yang terpasang harus mampu meng-coversampai radius 120 derajat.
Dan di posisi air teminal, batang tembaga disambung dengan kabel BC langsung menuju grounding rod.
Parameter dalam menentukan kualitas grounding
Parameter yang paling penting dalam menilai kualitas grounding adalah resistansi atau nilai tahanan dalam satuan Ohm, yang terukur di koneksi grounding tersebut.
Semakin kecil nilai tahanannya, semakin baik grounding tersebut. Artinya arus gangguan listrik atau petir dapat lebih cepat menuju bumi tanpa hambatan berarti.
ingatlah, arus listrik secara alami cenderung mencari jalan dengan hambatan termudah…(prinsipnya sama dengan manusia yah..)
Nilai yang umum dipakai adalah nilai tahanan maksimal 5 Ohm untuk instalasi listrik rumah dan maksimal 2 ohm untuk instalasi petir. Hal ini juga sesuai dengan yang dinyatakan dalam PUIL 2011.
Berapa Panjang Batang Grounding yang Harus Terpasang?
Yang perlu dicatat disini adalah, nilai tahanan yang didapat tidak selalu sama dengan panjang grounding rod yang terpasang, karena sangat tergantung pada kondisi tanah dimana instalasi grounding ini dipasang.
Bila kondisi tanahnya mempunyai nilai tahanan rendah, maka cukup dipasang satu atau dua batang grounding rod dan tahanan yang terukur dapat mencapai dibawah 5 ohm.
Bila tahanan terukur masih tinggi, maka panjang grounding rod harus ditambah agar lebih dalam lagi.
Bila pada kedalaman tertentu nilai tahanan masih tinggi, maka sebaiknya pindahkan posisi grounding rod tersebut.
Mengacu pada PUIL 2011 menjelaskan, jika daerah yang mempunyai jenis tanah yang nilai tahanannya tinggi, tahanan grounding-nya bisa mencapai maksimal 10 ohm.
Earth Tester
Pengukuran nilai tahanan ini menggunakan earth tester, dimana alat ukur ini sudah menjadi alat wajib bagi kontraktor yang mengerjakan instalasi grounding. Anda hanya perlu memastikan bahwa nilai tahanan yang terukur sudah sesuai dengan persyaratan instalasi grounding.
Jadi bukan berapa meter grounding rod ditanam, tapi nilai resistansi yang harus jadi parameter utama.


grounding


Pembumian atau Grounding adalah benda logam yang di tanam di tanah berfungsi sebagai pelepasan muatan listrik, tanah atau bumi adalah sebuah masa yang bersifat netral dan memiliki volume yang luar biasa besar sehingga mampu untuk menyerap dan menetralkan muatan listrik sebesar apapun.
Tingkat kehandalan sebuah grounding ada di nilai konduktifitas logam terhadap tanah yang ditancapinya , semakin konduktif tanah terhadap benda logam maka semakin baik. kualifikasi Grounding / Pembumian harus bisa mendapatkan nilai Tahanan sebaran Maksimal 5 ohm (bila bibawah 5 Ohm lebih baik) dengan menggunakan Ohm Meter khusus (Eart Tester meter).
Untuk mendapatkan nilai tahanan sebaran grounding dibawah 5 ohm tidak semua areal bisa dengan mudah memenuhi nilai grounding yang diinginkan , tergantung oleh berbagai macam faktor yang mempengaruhinya misal :
  • harga Air
    Bila air tanah dangkal / penghujan maka nilai tahanan sebaran mudah didapatkan sebab sela sela tanah mengandung cukup air bahkan berlebih, sehingga konduktifitas tanah akan semakin baik.
  • Mineral / garam
    Kandungan mineral tanah sangat mempengaruhi tahanan karena semakin berlogam dan bermineral tinggi maka tanah semakin mudah menghantarkan listrik, daerah pantai kebanyakan memenuhi ciri khas kandungan mineral dan garan tinggi sehingga, tanah sekitar pantai akan jauh lebih mudah untuk mendapatkan tahanan tanah yang rendah.
  • Keasaman
    Semakin asam PH tanah maka arus listrik semakin mudah mengirim dan berlaku sebaliknya PH tanah Tinggi (dasar) maka listrik juga sulit mengalir.
    Ciri tanah dengan PH Tinggi (dasar) biasanya berwarna terang misalnya Bukit Kapur .
  • tekstur tanah
    Untuk daerah yang bertekstur pasir dan porous akan sulit untuk mendapatkan tahanan sebaran yang baik karena untuk jenis tanah ini air dan mineral akan mudah hanyut dan tanah mudah kering.
Melihat karakteristik tanah sebagaimana di atas maka ada berbagai teknis pembuatan grounding yang bisa dipakai :

Tunggal Rod Grounding

Ground yang hanya terdiri dari satu buah titik penancapa stik Rod arus pelepas di dalam tanah dengan kedalaman tertentu (pikiran. 6 mtr). untuk daerah yang memiliki karakteristik tanah yang konduktif tentu mudah untuk didapatkan tahanan sebaran tanah dibawah 5 ohm hanya dengan satu buah batang.

Paralel Rod Grounding

Grounding system Paralel menjadi tindakan alternatif bila sistem single masih mendapatkan hasil yang kurang baik ( diatas 5 ohm ) maka perlu ditambahkan stick arus pelepas dengan minimal jarak antar stick 2 mtr dari ground sebelumnya dan di sambung ke ground baru disebelahnya, hal ini dilakukan berulang sampai menghasilkan nilai tahanan tanah yang diinginkan ( dibawah 5 ohm ).

Multi System Grounding

Bila didapati kondisi tanah yang memiliki ciri :
  1. Kering / air tanah dalam.
  2. Kandungan logam sedikit.
  3. dasar (berkapur).
  4. Pasir dan Porous.
maka penggunaan 2 cara diatas akan susah dan bisa gagal untuk mendapatkan resistansi kecil, maka teknis yang digunakan dengan cara penggantian tanah dengan tanah yang memiliki sifat menyimpan air atau tanah yang kandunga mineral garam dapat mengirimkan listrik dengan baik, pada daerah titik logam rod ground yang di tancapkan dan di kisaran kabel penghubung antar ground nya.
Tanah Humus, Tanah dari kotoran Ternak, Tanah Liat Sawah cukup bisa memenuhi standart hantar tanah yang baik, caranya :
  1. Letak titik batang di bor dengan lebar kisaran 2 inc atau lebih, kemudian di isi dengan Tanah Humus sampai penuh kemudian di isi air kemudian rod ground di masukkan.
  2. Parit penghubung antar rod ground yang sudah terpasang kabel penghubung ( SM ) di uruk kembali dengan tanah Humus.
System grounding


  • Halaman

  • Meluncur




































  •